Pemberani

َنَا النّّبِي لَا كَذب أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطلب أَيُّهَا النَّاس هَلمُّوا إِلَيَّ أَنَا رَسُوْلُ الله أَنَا مُحَمَّد بْن عَبْد الله

Maksudnya: “Saya adalah seorang Nabi. Apa yang saya katakan bukanlah kebohongan. Saya adalah keturunan ‘Abd al-Muttalib. Wahai manusia, kemarilah. Saya adalah utusan Allah, saya adalah Muhammad bin ‘Abdillāh.”[1]

a. Keberanian Nabi Muhammad saw

Keberanian nabi Muhammad s.a.w. dapat dijadikan teladan oleh umatnya. Pemuda-pemuda Muslim hendaknya menjadikan teladan terhadap sifat Nabi  ini, sehingga tiada lagi rasa khawatir dan takut di dada mereka.

Berkata sahabat Anas bin Mālik r.a.: “Nabi Muhammad adalah orang yang paling berani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara bergaduh, sebagian pemduduk bergegas menuju asal datangnya suara tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Sebelum mereka sampai ke tempat yang dituju, mereka bertemu Rasulullah sedang naik kuda tanpa lampu penerang, Beliau datang dari arah suara gaduh itu  dengan pedang dipunggungnya. Beliau lebih dahulu sampai ke tempat bersumbernya suara gaduh tersebut, ketika Beliau bertemu dengan rombongan tersebut Beliau berkata: “Jangan khawatir, jangan khawatir, (tiada apa-apa yang terjadi.”[2]        

Berkata ‘Abdullāh ibn ‘Umar r.a.: “Saya tidak pernah melihat orang yang melebihi Rasulullah dalam hal suka menolong (orang lain), kedermawanan, keberanian dan ketepatan busur panah mengenai tempat sasaran.”

Berkata Imrān bin al-Hasīn r.a.: “Setiap tentara muslim bertemu dengan musuh, Rasulullah selalu orang yang pertama kali menyerang mereka.”

Berkata sahabat al-Barrā’ r.a.: “Jika Rasulullah s.a.w. memutuskan utnuk ikut ke medan perang, maka Beliau adalah orang yang paling tegar menghadapi musuh. Orang yang paling pemberani di antara kita adalah orang yang posisinya dekat dengan Rasulullah s.a.w. di medan perang. Hal ini kerana posisi Beliau (sewaktu perang) sangat dekat sekali terhadap musuh.”[3]

Sayyidina ‘Alī k.w. mengisahkan: “Jika perang telah berkecamuk, maka kami berlindung di belakang Rasulullah s.a.w.. Beliau adalah orang yang posisinya paling dekat terhadap musuh. Ketika perang Badar mulai berkecamuk, kami berlindung di belakang Rasulullah s.a.w.. posisi Beliau sangat dekat dengan musuh dan pada waktu itu Beliaulah orang yang paling tegar menghadapi musuh.”[4]

b. Apa itu Keberanian?

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan munculnya rasa khawatir di hati manusia. Hal-hal yang dikhawatirkan tersebut biasanya merupakan hal-hal negatif. Rasa takut dan khawatir ini muncul, di saat hal-hal yang dianggap negatif tersebut terbayang di benak manusia. Hal tersebut dapat berupa aib peribadi, kemiskinan, sakit atau kematian.

Yang dimaksudkan dengan sikap berani bukanlah sikap sama sekali tidak takut terhadap semua hal yang dianggap negatif. Kadang-kadang perasaan takut terhadap sesuatu, sangat diperlukan dan dianggap sebagi tindakan terpuji. Bahkan dapat dikatakan suatu aib atau sikap tidak normal, apabila ada seorang yang tidak mempunyai rasa takut sama sekali. Contohnya adalah, jika ada seorang yang takut apabila aib peribadinya diketahui oleh orang lain, maka sikap orang tersebut termasuk sikap yang terpuji. Adapun orang yang tidak khawatir apabila aib peribadinya diketahui oleh orang lain dapat dikatakan sebagai orang yang tidak normal, meskipun orang seperti ini kadang-kadang juga dianggap sebagai pemberani, namun keberaniannya itu bukanlah keberanian yang terpuji dan tidak semestinya dilakukan.

Contoh yang lain adalah, sikap menentang kematian pada setiap saat bukanlah termasuk sikap pemberani yang terpuji. Sikap berani mati dapat dikatakan terpuji apabila muncul di saat perang atau ketika dia mempertahankan dirinya dari serangan orang lain. Kematian di saat seperti ini adalah kematian yang mulia, dan orang yang berbuat demikian sesuai untuk disebut sebagai seorang pemberani.

Keberanian Rasulullah s.a.w. adalah kebenarian yang sempurna. Beliau tidak takut menghadapi kematian. Sikap pemberani selalu Beliau tunjukkan baik pada masa damai maupun di tengah pertempuran. Beliau berani menyebarkan ajaran Islam meskipun jumlah sahabatnya masih sangat sedikit. Bahkan, meskipun dalam keadaan bersendirian, dada Beliau tetap dipenuhi semangat keberanian. Begitu juga ketika banyak orang yang masuk Islam, keberanian Beliau sama sekali tidak berkurang sedikitpun. Rasulullah s.a.w. terkenal sangat berani menyampaikan kebenaran, membela ajaran dan akidah Islam meskipun Beliau harus menghadapi akibat yang sangat berat.

Keberanian Beliau dapat dilihat dalam perilaku sehari-hari beliau. Di saat Allah s.w.t. memerintahkan kepada Beliau untuk berjihad, Beliau dengan serta merta memenuhi panggilan perintah itu. Hal ini nampak jelas ketika Allah s.w.t. menetapkan perintah yang etrdapat pada surah al-Taubah, 9: 41, yang ertinya: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Selain itu, banyak juga ayat al-Qur’an yang kandungan isinya mendorong umat Islam untuk selalu bersemangat membela agamanya dan memberi janji bahawa pertolongan akan datang apabila umat Islam disakiti oleh musuh-musuhnya. Pertolongan ini adalah semata-mata anugerah dan karunia Allah s.w.t., Zat yang memuliakan tentera-Nya dan memukul mundur tentera-tentera musuh dengan kekuatan-Nya sendiri.

Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-Anfāl, 8: 15-16, yang ditujukan kepada semua umat Islam, ayat tersebut yang bererti: “Wahai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Sesiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.”

Keberanian Rasulullah s.a.w. tidak hanya berlaku pada hal-hal dan keadaan tertentu sahaja, keberanian Beliau mencakup segala sesuatu dan dalam berbagai macam keadaan. Beliau sangat terkenal sebagai orang yang berani mengemukakan pendapat. Hal ini nampak jelas sekali, ketika Beliau berdakwah menyerukan ajaran Islam pada periode awal Makkah. Sebagaimana diketahui, kaum Quraisy merasa terganggu dengan dakwah yang sangat gencar disampaikan oleh Rasulullah. Dakwah-dakwah Beliau sememangnya telah banyak mengandung kritikan terhadap pemikiran-pemikiran kaum Quraisy, terutama konsep ketuhanan yang telah mereka anut. Beberapa waktu mereka membincangkan masalah ini, dan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk mengadukan permasalahan ini kepada paman Nabi yang bernama Abū Tālib. Mereka berkata kepada Abū Tālib: “Kamu adalah orang tertua di antara kami, dan kamu sangat dihormati dan disegani oleh kaum kami. Kami telah mencoba menghentikan tingkah laku anak saudara kamu, namun dia tidak akan mau berhenti juga. Demi Tuhan, kami tidak tahan lagi dengan kata-kata yang sering ia lontarkan, ia cerca nenek moyang kita, menganggap hodoh pikiran-pikiran kita dan mencela Tuhan-tuhan sesembahan kita. Saya meminta supaya kamu menghentikan tindakan-tindakannya, atau kalau kamu tidak mau, maka kami tidak bertanggung jawab lagi terhadapmu apabila nanti ada salah satu dari kami (kaum Quraisy atau Nabi) yang binasa.”

Abū Tālib merasa terbebani dengan uncapan kaumnya ini. Di satu sisi dia tidak ingin memusuhi kaumnya namun di sisi lain ia juga tidak ingin mengecewakan anak saudaranya itu. Kemudian dia berkata kepada Muhammad: “Wahai anak saudaraku. Kaummu telah datang kepadaku dan mengadukan perbuatanmu. Saya harap kamu bersamaku dan janganlah engkau bebani diriku ini dengan masalah-masalah berat yang aku tidak sanggup mengatasinya.” Mendengar ucapan pamannya ini, Rasulullah mendakwa bahawa pamannya sudah tidak mau ikut campur urusannya lagi, tidak mau membela dan membantu perjuangannya lagi. Kerananya Beliau berkata: “Wahai paman. Demi Allah, kalaulah mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku, dan meletakkan rembulan di tangan kiriku, kemudian mereka memintaku menghentikan dakwah ini, maka saya tidak akan berhenti berdakwah sehingga Allah s.w.t. menunjikkan hasilnya atau aku mati membela perjuangan dakwah ini.”

Pada waktu mengucapkan kata-kata ini, mata Rasul berkaca-kaca sehingga menangis. Kemudian Beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan pamannya, namun belum lagi Beliau memalingkan tubuh, pamannya menahan dan berkata kepadanya: “Wahai anakku. Pergilah dan sampaikan semua hal yang memang kamu suka. Demi Allah, saya tidak akan pernah menyerahkan dirimu kepada siapapun.”[5]

Kaum kafir Quraisy sangat bangga dengan nasab (silsilah keturunan keluarga), kekuasaan dan harta yang mereka miliki, sehingga mereka beranggapan bahawa hal tersebut adalah segala-galanya dalam hidup ini. Ketika memandang seorang Muhammad, mereka juga menggunakan cara pandang seperti ini, sehingga mereka mendakwa bahawa Rasulullah s.a.w. mempunyai keperibadian yang sama dengan mereka. Mereka tidak faham bahawa apa yang diajarkan oleh Nabi adalah ajaran agung dan mulia yang berbeza jauh dengan apa yang mereka yakini dan mereka banggakan selama ini. Cara berfikir seperti ini, membuat mereka mencoba menawarkan sebuah usulan kepada Nabi yang mereka kira dapat membuat Nabi mau mengikuti keyakinan mereka.


[1]  Al-Lu’lu’ wa al-Marjān, (2/260).
[2]  Tārīkh al-Tabarī, (3/186).
[3]  Al-Jāmi‘ al-Saghīr, (2/387).
[4]  Ihyā’ Ulūm al-Dīn,  (2/337).
[5] Sīrah Ibn Hisyām, (1/284).
Pos ini dipublikasikan di Pemberani dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s